PM Yoshihiro Noda: Semakin Melemah? Efek Hutang Luar Negeri terhadap Kekuasaan

Oleh Dewanto Kironoputro
11/317867/SP/24753

Berita diambil dari http://www.tokyotimes.com/2012/tax-vote-weakens-prime-ministers-hold-power/

Masa vakumnya Ichiro Ozawa dari kegiatan politik di Democratic Party of Japan (DPJ) telah usai dan Ozawa kembali kepada perpolitikan Jepang melalui DPJ. Seiring dengan kembalinya Ozawa kepada DPJ, keadaan partai yang tengah berkuasa ini memanas. Ozawa muncul sebagai tokoh yang memimpin gerakan oposisi terhadap Perdana Menteri (PM) Yoshihiro Noda di dalam DPJ, dan berusaha menurunkannya dari kursi kekuasaannya di Democratic Party of Japan. Poin utama dari tindakan yang dilakukan Ozawa tersebut adalah keidaksetujuannya terhadap keputusan PM Noda untuk menaikkan pajak. Langkah yang digunakan Ozawa menggunakan pengikut-pengikutnya. Melalui pengaruhnya, Ozawa berhasil menarik dukungan dari 52 kader DPJ yang duduk di kursi Diet untuk bersama mengundurkan diri dan mengancam untuk membuat sebuah partai baru, apabila kebijakan untuk menggandakan pajak konsumsi benar-benar lolos dari Upper House dan dilakukan. Kedudukan PM Noda dan DPJ akan sangat terancam dalam perpolitikan Jepang. Namun, tindakan ini belum menjadi nyata dan benar-benar melemahkan PM Noda. Nyatanya, kebijakan yang diusulkan PM Noda berhasil lolos Diet sebagai Lower House yang berisikan pendukung-pendukung Ozawa. Ancaman dari Ozawa tersebut lebih mengancam integritas dan keselamatan DPJ ke depan dibandingkan mengancam posisi PM Noda sendiri. Ini disebabkan nilai yang diperjuangkan PM Noda kemudian telah berhasil dan merusak fundamental dari oposisi yang telah dilakukan Ozawa apabila pajak benar-benar dinaikkan.

Kuatnya pengaruh dari Ichiro Ozawa ini menjadi ancaman utama bagi karir Noda sebagai perdana menteri dan integritas dari DPJ itu sendiri. PM Noda sendiri adalah seseorang yang cukup berani untuk mengambil keputusan yang tidak populer. Sedari awal, Noda telah dipandang sebagai seseorang yang sangat berbeda dengan perdana menteri-perdana menteri pendahulunya dari DPJ dan berani membuat sebuah gebrakan untuk memperbaiki perekonomian Jepang yang sedang dililit hutang yang bahkan lebih besar daripada nilai perekonomian Jeang itu sendiri. Ketika ia naik sebagai perdana menteri, ia bahkan berani berdiri berseberangan dengan tokoh yang sangat berpengaruh di perpolitikan Jepang seperti Ichiro Ozawa sekalipun.

Meskipun begitu, PM Noda memiliki kekuatan dengan menjadi solutif. Kubu Ichiro Ozawa belum memberikan solusi secara nyata untuk memperbaiki perekonomian Jepang. Sejak membengkaknya hutang luar negeri Jepang akibat ledakan nuklir di Fukushima dan tsunami, PM Noda sebagai perdana menteri yang telah berjalan sejak September memprioritaskan agar hutang luar negeri Jepang tidak menjadi lebih besar lagi, dan akhirnya menyebabkan krisis. Oleh karena itu, reaksi terhadap tindakan PM Noda tersebut sangat dipengaruhi oleh para pembuat hukum di Jepang yang sedang mengalami dilema di antara menjaga keuangannya sendiri dan untuk meningkatkan perekonomian Jepang. Pengaruh lainnya dengan dilema yang sama juga berasal dari masyarakat Jepang itu sendiri.

Di samping itu, PM Noda telah menyatakan berani untuk mempertaruhkan karirnya demi memperjuangkan usulannya untuk menaikkan pajak tersebut. Pernyataan PM Noda tersebut memperlihatkan usahanya menjaga identitasnya sebagai perwakilan dari sebuah partai sayap kiri dan mengakomodasi kepentingan untuk membayar hutang luar negeri. Untuk melihat upaya tersebut, perlu dipahami bahwa PM Noda lebih memilih menaikkan pajak dibanding mendorong ekspor dan investasi asing untuk memperbaiki perekonomian Jepang yang berhutang terhadap pihak luar tersebut. Dengan kata lain, PM Noda berusaha untuk mengembalikan hutang Jepang melalui cara yang kekirian.
PM Noda merupakan seorang pemimpin yang cukup fenomenal di Jepang; ia datang dengan ide yang cukup kontroversial namun dengan tujuan yang mengakomodasi seluruh lapisan masyarakat. Untuk itu, ia sangat terlihat dengan usahanya yang menuai banyak kritik tersebut. Secara politis, pengaruh PM Noda di pemerintahan Jepang belum secara nyata melemah. Ancaman dari Ichiro Ozawa tidak secara nyata membahayakan posisi PM Noda, melainkan lebih teralamat kepada DPJ itu sendiri.

Sumber:

  1. The Tokyo Times, ‘Tax vote weakens Prime Minister’s hold on Power’, diakses dari http://www.tokyotimes.com/2012/tax-vote-weakens-prime-ministers-hold-power/ pada 10 Desember 2012.
  2. Hiroko Tabuchi, The New York Times, 26 April 2012, ‘Japan Power Broker Acquitted in Scandal’, diakses dari http://www.nytimes.com/2012/04/26/world/asia/ichiro-ozawa-is-acquitted-in-campaign-fund-raising-scandal-in-japan.html?_r=2& pada 10 Desember 2012.
  3. Sheila A. Smith, Council of Foreign Relations, 26 Juni 2012, ‘Prime Minister Noda’s Divided Party’, diakses dari http://blogs.cfr.org/asia/2012/06/26/prime-minister-nodas-divided-party/ pada 10 Desember 2012.
About these ads
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s