Keputusan Jepang Menanggapi Konflik Perebutan Pulau Senkaku

    Beberapa hari yang lalu, hubungan Jepang-Cina sempat memanas akibat konflik perebutan pulau Senkaku di laut Cina Timur. Kedua negara ingin mengklaim pulau tersebut menjadi miliknya sehingga kedua negara menggelar pengamanan laut dengan meletakkan pasukan angkatan laut masing-masing negara di sekitar lokasi tersebut. Walau kedua negara telah meratifikasi konvensi hukum laut PBB 1982 tetapi konflik tidak terhindarkan karena kedua negara nyatanya memiliki pandangan berbeda tentang masalah ini sebab Jepang mengusulkan pembagian wilayah berdasar garis tengah di zona ekonomi eksklusifnya (berjarak 200 mil dari garis dasar/baseline), sedangkan China mengacu pada kelanjutan alamiah dari landas kontinennya (berjarak di luar 200 mil)[1]. Jika diamati akan terasa wajar jika pulau ini diperebutkan oleh dua negara besar Asia, Jepang dan Cina, sebab pulau Senkaku sendiri memiliki potensi energi dari keberadaan minyak dan gas alamnya yang begitu banyak. Apalagi kedua negara merupakan salah satu aktor kekuatan industri dunia sehingga keberadaan sumber energi sangat mereka butuhkan terlebih lagi pulau Senkaku ini terletak tidak jauh dari negara Jepang dan Cina itu sendiri.

    Tapi permasalahan yang muncul kemudian adalah konflik perebutan pulau Senkaku mengakibatkan hubungan ekonomi antara Jepang-Cina menjadi tersendat. Kedua negara sebenarnya merupakan partner kerjasama ekonomi yang cukup solid dan menjadikan kedua negara sebagai motor penggerak ekonomi di kawasan Asia sehingga keadaan ini juga memiliki dampak tersendiri terhadap ekonomi Asia maupun dunia secara luas. Penyebab tersendatnya kerjasama ekonomi Jepang-Cina diakibatkan oleh adanya gelombang protes yang dilakukan masyarakat Cina yang sangat nasionalis. Protes masyarakat Cina yang menyatakan diri sebagai anti-Jepang ini diharapkan mampu untuk membuat Jepang untuk meninggalkan pulau Senkaku yang memiliki sejarah panjang dengan Cina. Hal tersebut membuat keberadaan perusahaan-perusahaan Jepang yang lebih didominasi oleh industri otomotif seperti Daihatsu dan Nissan, menjadi terancam. Ancaman itu membuat banyak perusahaan Jepang ini memiliki ketakutan akan serangan yang akan dilancarkan masyarakat Cina ke arah mereka karena mereka sadar bahwa konflik perebutan pulau Senkaku ini semakin hari kian memanas. Dengan meningkatnya kemarahan rakyat China dengan membakar bendera Jepang bahkan menyerang kantor perwakilan Jepang[2], keputusan Jepang untuk menutup banyak perusahaan besar Jepang di China rasanya menjadi hal yang sangat tepat untuk menghindari adanya kerugian materi dan jatuhnya korban sipil masyarakat Jepang.

    Keputusan Jepang dengan menghentikan operasi perusahaan mereka untuk mencegah konflik berlanjut ini sebenarnya memperlihatkan bahwa Jepang lebih mempergunakan perspektif liberal (ekonomi) daripada perspektif realis (perang) dalam menentukan solusi dan jalan keluar konflik. Dengan keadaan yang semakin memanas bisa saja Jepang memilih untuk mengirim pasukan militernya dan kemudian mencoba menyerang pasukan Cina untuk memperebutkan pulau Senkaku, namun hal tersebut belum dilakukan karena Jepang mungkin telah mempertimbangkan konsekuensi yang akan dialami ketika perang menjadi pilihan terakhir mereka. Jepang kemudian mempertimbangkan cara-cara untuk menurunkan ketegangan dan memilih untuk menghindari terjadinya konflik militer terbuka dalam proses penyelesaian konflik yakni dengan menghentikan operasi dan kegiatan industri mereka disana untuk sementara waktu[3]. Hal ini menjadi sangat rasional ketika melihat Jepang memiliki latar belakang dan concern yang besar terhadap dinamika ekonomi baik di dalam maupun di luar negeri sehingga keputusan perang justru pada akhirnya akan menimbulkan kerugian  besar akibat banyaknya biaya yang akan mereka keluarkan dalam operasi militer dan resiko menurunnya kerjasama ekonomi dengan negara-negara lain, dalam kasus ini adalah kerjasama ekonomi antara Jepang dan Cina itu sendiri yang notabene saling membutuhkan peran satu sama lain sebagai cara untuk meningkatkan ekonomi masing-masing negara.

YOSHUA ENDYANTO
(10/299143/SP/24066)


[1] “Senkaku, antara Jepang dan China” , KOMPAS (Online), diakses tgl6 Oktober 2012 <http://nasional.kompas.com/read/2012/09/24/05341379/Senkaku.antara.Jepang.dan.China>

[2] “Fallout widens from island dispute between China, Japan” , CNN (Online), diakses tgl6 Oktober 2012 <http://edition.cnn.com/2012/09/17/world/asia/china-japan-islands-dispute/index.html>

[3] “Krisis laut China Timur: Bermotif Ekonomi dan Jauh dari Perang” , KOMPAS (Online), diakses tgl6 Oktober 2012 <http://internasional.kompas.com/read/2012/10/05/09055295/Bermotif.Ekonomi.dan.Jauh.dari.Perang>

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s