“Yoshihiko Noda dan Turbulensi Kabinetnya”

       Menarik ulang masa-masa awal pemerintahan Yoshihiko Noda ketika ia pertama kali didaulat sebagai perdana menteri Jepang dalam pemilihan umum nasional tahun 2011, ia nampak memberikan kerangka program kerja pemerintahan yang amat menjanjikan untuk membawa kejayaan Jepang bangkit dari turbulensi nasional seperti kerugian akibat bencana alam, fluktuasi nilai yen yang kerap menurun, hingga surplus produksi global yang semakin berkepanjangan. Hanya saja selepas tiga kali pergantian kabinet, Yoshihiko Noda beserta partai tempat ia bernaung, Democratic Party of Japan (DPJ) tak kunjung dapat menggeser popularitas dari partai oposisi mayoritas Jepang saat ini, Liberal Democratic Party (LDP) yang telah berkuasa selama kurang lebih 3 dekade lamanya. Padahal secara objektif apabila ditinjau ulang, kabinet Yoshihiko Noda menawarkan berbagai program kerja yang menjanjikan. Misalnya saja menginisiasi Jepang untuk menjalin kerjasama ekonomi intens dengan Amerika Serikat kembali dalam kerangka Trans-Pacific Partnership (TPP), untuk mengembangkan zona perdagangan bebas secara lebih progresif. Hal ini diharapkan dapat menstimulus perekonomian Jepang yang sedang melemah mulai dari sektor fiskal hingga menaikkan daya beli pasar. Selain itu, perdagangan bebas juga dapat memicu frekuensi investasi yang lebih melimpah dan sedang dibutuhkan oleh Jepang yang sedang mengalami defisit finansial karena pemerintah Jepang harus bergantung sepenuhnya pada domestic savings.

          Spekulasi saya, pihak partai oposisi mayoritas yaitu LDP yang teramat asertif terhadap kabinet Jepang incumbent terlihat mengalami post-power syndrome, yang adalah wajar mengingat masa kejayaan LDP begitu lama menancapkan pengaruhnya pada pemerintahan Jepang. Berbagai strategi dan lobi di kalangan elite, serta pertemuan nasional, kerap dilakukan dengan mengangkat isu yang dianggap dapat menurunkan citra kabinet Noda beserta segenap jajaran DPJ. Misalnya saja strategi yang ditawarkan kabinet Noda untuk melepaskan ketergantungan Jepang pada energy nuklir pada 2040, dan telah diproses dengan penutupan dua unit reactor nuklir di tahun 2012 ini, ditangkis dengan spekulasi mengenai makin melemahnya ekonomi Jepang yang berbasis energi nuklir, karena Jepang harus membuat strategi untuk membuat energy alternatif bagi konsumsi domestic. Disamping itu, industry manufaktur berat yang secara operasional menggunakan energi nuklir, harus direlokasi hingga ke Vietnam, demi penjaminan ketersediaan energi alternatif yang berkelanjutan. Belum lagi nasib perusahaan besar yang memberikan supply terhadap reactor nuklir Jepang, dapat kehilangan sumber pendapatannya. Keputusan Kabinet Noda terkait isu nuklir ini dikritik terlalu cepat dan tidak dilakukan secara gradual, sehingga apabila dipaksakan akan menimbulkan kecacatan yang signifikan pada pertumbuhan ekonomi Jepang[1]. Tak hanya berhenti pada kritik mengenai isu nuklir, kebijakan menaikkan tarif dasar pajak juga dijadikan isu bagi partai oposisi untuk menurunkan popularitas kabinet Noda, dan cukup ditanggapi kritis oleh masyarakat[2]. Isu ini pun memiliki probabilitas untuk menurunkan dukungan masyarakat terhadap kabinet Noda dan loyalitas masyarakat terhadap DPJ. Noda pun mengatasinya dengan strategi menginklusikan kader-kader dari partai oposisi dalam reshuffle kabinetnya yang sudah dilakukan 3 kali pada masa pemerintahannya[3]. Upaya pencitraan Noda ini memang tak mendapat antusiasme yang tinggi dari Shinzo Abe, Presiden LDP incumbent. Bahkan, tanggapannya akan tiap strategi Noda memiliki tendensi sentiment personal, seperti keluhannya yang tidak pernah diundang makan bersama oleh Yoshihiko Noda[4].

          Terlepas dari turbulensi nasional yang terjadi sebelum dan saat Kabinet Yoshihiko Noda menjabat, saya beranggapan bahwa kebijakan-kebijakan yang ditawarkannya merupakan kebijakan yang tidak konvensional dan berharap kejayaan Jepang sebagai macan Asia kembali dapat diraih. Hanya saja timing ketika kebijakan-kebijakan prospektif tersebut ditawarkan sedang tidak sinkron dengan ketahanan nasional Jepang yang sedang melemah. Sentimen yang terletak di kalangan elite politik sebaiknya dikesampingkan dahulu, agar dapat mempermudah kinerja badan check and balances jepang dapat berfungsi secara progresif, dan mengeluarkan keputusan secara objektif.

 

Sumber utama : G. Melloan, ‘Noda’s Plan Could Save Japan’, The Wall Street Journal, 7 November 2011, http://online.wsj.com/article/SB10001424052970204667104577021131381195056.html, diakses 11 Oktober 2012.
 
Ditulis oleh : Dara Ninggarwati Gumawang – 10/299490/SP/24147

[1]D. Yurman, ‘ Japan’s Non-Nuclear Decision’, ANS Nuclear Café, 20 September 2012, http://ansnuclearcafe.org/category/fukushima/, diakses pada 11 Oktober 2012

[2] ‘Jepang akan Menaikkan Tarif Dasar Pajak’, Okezone, 5 Juni 2012, http://surabaya.okezone.com/read/2012/06/05/468/641971/jepang-akan-menaikan-tarif-dasar-pajak, diakses 11 Oktober 2012

[3]R.Gunawan, ‘Sejumlah Menteri Kabinet Jepang Mundur’, Liputan6, 4 Juni 2012, http://news.liputan6.com/read/408190/sejumlah-menteri-kabinet-jepang-mundur, diakses 11 Oktober 2012

[4] ‘New DPJ, LDP Leaders Begin Maneuvering’, Daily Yomiuri Online, 30 September 2012, http://www.yomiuri.co.jp/dy/national/T120929002577.htm, diakses 11 Oktober 2012

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s