JELANG PEMILU MAJELIS RENDAH, PARTAI-PARTAI JEPANG MULAI GERAH

Gayuh Mustiko Jati

11/314221/SP/24602

Pemilu Majelis Rendah Jepang yang akan diselenggarakan Desember mendatang merupakan salah satu arena kontestasi politik yang sangat prestisius dalam sistem politik di Jepang. Pemilu majelis rendah menjadi penting maknanya bagi partai-partai yang bersaing dalam pemilu sebab pemenang pemilu di majelis rendah akan menentukan kekuatan partai tersebut dalam parlemen sekaligus mengukuhkan kedudukan Perdana Menteri yang akan memerintah Jepang di periode pemerintahan mendatang. Pemilu majelis rendah menjadi salah satu isu hangat dalam politik Jepang saat ini menyusul pembubaran parlemen yang telah dilakukan oleh PM Yoshihiko Noda pertengahan November ini serta pengumuman pemilu majelis rendah yang akan di selenggarakan di bulan Desember mendatang. Parlemen akan dibubarkan sore ini (16/11), kemudian kabinet akan menentukan jadwal pemilu dan Noda akan menggelar keterangan pers, demikian laporan NHK.[1] Sebelum pembubaran ini, desakan untuk mengesahkan UU Reformasi Pemilu dan pembiayaan defisit mengalami hambatan, terutama tekanan dari partai oposisi, LDP.

Ada beberapa hal menarik yang terjadi setelah diumumkannya pembubaran parlemen ini terkait dengan pemilu majelis rendah yakni mengenai persaingan partai politik yang kembali menghangat menuju pemilihan umum majelis rendah. Kekuatan partai-partai besar Jepang mulai kembali muncul, popularitas partai berkuasa—DPJ—yang semakin menurun akibat kebijakan-kebijakan yang tidak pro-rakyat seperti kenaikan pajak, serta pecahnya koalisi dan dukungan terhadap LDP dan DPJ dengan munculnya partai-partai alternatif. Bagi sebagian pengamat politik, situasi ini cukup berpengaruh terhadap peta kekuatan partai yang mungkin akan sedikit bergeser serta dukungan rakyat yang mulai terpecah.

Berdasarkan jajak pendapat dan survei harian bisnis Nikkei, 25 persen dari orang-orang yang disurvei mengatakan, mereka akan memilih LDP dalam pemilihan parlemen (majelis rendah) pada 16 Desember, sementara 16 persen akan memilih Partai Demokratik Jepang (DPJ). Lebih signifikan, perolehan poll menunjukkan Partai Restorasi Jepang yang baru pimpinan walikota Osaka Toru Hashimoto meraih dukungan 11 persen dan Sunrise Party pimpinan tokoh nasionalis yang juga mantan Gubernur Tokio Shintaro Ishihara meraih empat poin. Para analis menganggap pemilihan mendatang akan mengalami masa politik koalisi yang kacau, terutama karena sejumlah partai baru memecah suara pemilih yang tidak puas dengan LDP dan DPJ. Selain itu, siapapun pemenangnya masih akan kekurangan suara mayoritas dalam majelis tinggi parlemen, yang bisa menghalangi rancangan undang-undang.[2] Hal ini cukup membuktikan bahwa popularitas Partai Oposisi LDP yang sebelumnya telah berkuasa hampir setengah abad kembali meningkat, meskipun tidak mendominasi. Seperti yang telah diketahui, LDP pernah berkuasa selama lebih dari 50 tahun berturut-turut tetapi kehilangan kekuasaan dari DPJ di tahun 2009. Sementara itu, sebagai partai yang sedang berkuasa, DPJ menjanjikan lebih banyak mengeluarkan anggaran kesejahteraan dan jaring keamanan sosial yang lebih baik, tetapi berjuang untuk mengatasi penurunan ekonomi serta bencana gempa dan tsunami 11 Maret 2011. Hal ini pula yang cukup mempengaruhi dukungan terhadap DPJ.

Faktor lain yang menarik mengenai kebangkitan partai besar LDP adalah dengan terpilihnya Abe sebagai ketua umum yang baru. Fraksi oposisi Jepang dari Partai Liberal Demokrat (LDP), mengangkat Shinzo Abe sebagai ketuanya. Abe adalah mantan Perdana Menteri Jepang yang sering disebut konservatif dalam isu keamanan.[3] Walaupun begitu, dengan popularitas LDP yang kembali meningkat memastikan bahwa persaingan politik di Jepang akan semakin menarik lagi. Terutama dapat dilihat dalam langkah PM Noda untuk dapat mempertahankan suara dan dukungan agar dapat kembali memenangi pemilu. Noda diperkirakan akan memperjuangkan partainya (Democratic Party of Japan/DPJ) terpilih kembali, dalam menghadapi banyaknya pemilih yang kecewa dengan catatannya dalam tiga tahun, sejak menggulingkan LDP yang telah lama berkuasa.[4] Oleh karena itu,persaingan politik Jepang yang kembali memanas akan semakin seru untuk diikuti, persaingan yang tidak hanya di antara partai tetapi juga diantara para pemimpinnya.

Bahkan, Perdana Menteri Jepang Yoshihiko Noda mengatakan ia ingin melakukan debat dengan ketua partai oposisi, Shinzo Abe, sebelum pemilu majelis rendah tanggal 16 Desember mendatang. Noda mengatakan kepada wartawan di Tokyo hari ini bahwa ia siap berdebat dengan Abe kapan saja. Menurut Noda pemilu ini akan menjadi persaingan antara partai-partai politik dan para calon anggota majelis rendah, namun juga akan menentukan pemimpin Jepang berikutnya. Biasanya, partai politik terbesar di majelis rendah juga memboyong jabatan perdana menteri. Jajak pendapat menunjukkan Abe dari Partai Demokratik Liberal lebih unggul dibandingkan Noda dari Partai Demokratik. Noda mengungkapkan penting bagi publik untuk diberikan kesempatan melihat perbedaan antara ketua partai berkuasa dan ketua partai oposisi terbesarnya. Menurut Noda debat publik semacam itu harus mencakup soal ekonomi, jaminan sosial dan energi, serta kebijakan luar negeri, keamanan dan reformasi politik. Noda mengangkat persoalan terkait janji kampanye Partai Demokratik Liberal untuk merevisi konstitusi yang akan menyatakan Jepang memiliki pasukan pertahanan nasional.[5]

Persaingan yang cukup sengit dalam perebutan kursi parlemen majelis rendah menandakan kontestasi politik yang cukup tinggi di Jepang. Hal ini tidak hanya menyangkut siapa yang akan memenangkan pemilihan tetapi akan sangat menentukan siapa yang berkuasa dan memiliki kekuasaan lebih untuk membawa Jepang dalam keadaan yang lebih baik dari segi politik maupun ekonomi. Jika dilihat dalam beberapa berita di atas, dapat dilihat upaya dari masing-masing untuk berbenah dalam menggalang dukungan dari rakyat Jepang. Dan bisa dilihat pula bahwa kepentingan yang diusung oleh partai juga tercermin dari kondisi internal masing-masing partai dan pertarungan antara pemimpin dari partai-partai tersebut. Terlepas dari itu, kita lihat saja apa yang akan terjadi dalam pemilu majelis rendah Desember mendatang.


[1] BBC Indonesia, 16 November 2012, PM Jepang Bubarkan Parlemen (Online), <http://www.bbc.co.uk/indonesia/dunia/2012/11/121116_japannodaelection.shtml> diakses pada 24 November 2012 pukul 23.29 WIB

[2] Harian Analisa, 20 November 2012, Partai Oposisi Jepang Masih Unggul (Online), <http://www.analisadaily.com/news/read/2012/11/20/88658/partai_oposisi_jepang_masih_unggul/#.ULDt7-QoJmk> diakses pada 24 November 2012 pukul 22.55 WIB

[3] Aulia Akbar, Okezone.com edisi 26 September 2012, Mantan PM Jepang Jadi Ketua Partai Oposisi (Online), <http://international.okezone.com/read/2012/09/26/413/695341/mantan-pm-jepang-jadi-ketua-partai-oposisi> diakses pada 24 November 2012 pukul 23.26 WIB

[4] AFP, 14 November 2012, PM Jepang Tawarkan Pemilu jika Oposisi Bekerja Sama (Online),http://id.berita.yahoo.com/pm-jepang-tawarkan-pemilu-jika-oposisi-bekerja-sama-102222619.html>  diakses pada 24 November 2012 pukul 22.59 WIB

[5] NHK World, 24 November 2012, Noda Ingin Lakukan Debat Publik dengan Abe (Online),<http://www3.nhk.or.jp/nhkworld/indonesian/top/news03.html> diakses pada 24 November 2012 pukul 23.00 WIB

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s