DPJ Diramalkan Kalah

www.guardian.co.uk

PM Yoshihiko Noda (www.guardian.co.uk)

Pada Pemilu yang akan dilaksanakan Desember ini, DPJ diperkirakan akan kehilangan posisinya dalam pemerintahan dan digantikan rival mereka, LDP. Perkiraan ini didasarkan pada semakin menurunnya popularitas PM Yoshihiko Noda akibat kebijakan-kebijakan tidak populis yang diambilnya. Kenaikan pajak konsumsi yang diputuskan kabinetnya memicu protes dari kalangan pengusaha. Protes dari kalangan ini dapat diwadahi dengan baik oleh DPJ yang kemudian melancarkan tekanan ke pemerintah untuk segera mengadakan pemilu.

Kebijakan untuk menaikkan pajak sebenarnya adalah  opsi terakhir pemerintah untuk memenuhi tenggat jatuh tempo hutang. Kebijakan ini akan berlaku penuh pada 2015 yang membuat pajak konsumsi meningkat dua kali lipat.[1] Usulan ini mendapat dukungan di parlemen setelah terjadi beberapa transaksi politik antara kubu DPJ dan LDP.

Pada tahun 2011, jumlah hutang Jepang 220 kali lebih besar daripada Produk Domestik Brutto-nya.[2] Hutang itu kebanyakan dihimpun dari dalam negeri berupa penerbitan surat hutang. Hal ini dilakukan salah satunya untuk membiayai kredit perumahan yang digalakkan jauh sebelum DPJ berkuasa. Namun kredit itu justru menjadi masalah baru karena pembayaran dari rakyat yang sering tersendat. Besaran bunga tidak tetap yang mengikuti perkembangan ekonomi global menjadi salah satu penyebabnya.

Sebenarnya bunga yang mengikuti perkembangan ekonomi global bukan hal yang salah. Namun keadaannya yang resesi  membuat rasio bunga pembayaran cenderung naik. Akibatnya, muncul ketakutan dari pemerintah akan kekosongan kas negara dalam pos pembayaran hutang.

Resesi juga menurunkan ekspor Jepang. Padahal sektor menjadi salah satu andalan pemerintah untuk mengatasi permasalah ekonomi negara. Namun akibat resesi ini pasar yang menjadi target ekspor perusahaan di Jepang tidak mampu menyerap produk dari Jepang. Hal ini membuat langkah menaikkan pajak konsumsi sebagai solusi menghindari kekosongan kas. Langkah ini, menurut pemerintah, juga sekaligus cara untuk mengurangi besaran hutang nasional.

Keadaan ekonomi yang melemah juga menyebabkan peningkatan angka pengangguran. Pada April 2012  jumlah pengangguran mencapai 4,6% dari angkatan kerja.[3] Padahal pada tahun-tahun sebelumnya tak pernah lebih dari 2%. Kebijakan yang ditujukan untuk mengatasi krisis yang terjadi belum memperlihatkan hasil yang diharapkan.

Selain kenaikan pajak, DPJ juga menghadapi tekanan terkait penanganan dampak gempa dan tsunami. Bencana yang terjadi tahun 2010 itu masih meninggalkan masalah berupa kerusakan beberapa PLTN. Kekecewaan muncul dimana PLTN yang ada ternyata belum benar-benar aman. Ledakan reaktor Fukushima Daichi dan penanganannya tidak memuaskan rakyat.

Reaksi pemerintah dianggap tidak transparan karena menutupi kejadian sebenarnya. Hal-hal mengenai bagian mana yang rusak serta penanganan yang dilakukan, setelah diinvestigasi lebih lanjut, ternyata lebih buruk daripada berita yang dikeluarkan pemerintah. Investigasi itu juga mengungkapkan adanya proses birokrasi yang tidak parsial antara kementerian perdagangan dalam masalah energi.[4] Artinya, kementerian perdagangan mempunyai pengaruh yang besar dalam urusan pembangkit listrik. Hal ini memunculkan kekhawatiran bahwa pembangunan pembangkit listrik lebih mengedepankan aspek bisnis daripada keselamatan.

Dari aspek politik luar negeri, hal yang paling menimbulkan kekecewaan rakyat terhadap pemerintahan DPJ adalah penanganan masalah klaim tumpang tindih di Laut Cina Timur. PM dan kabinetnya dianggap tidak menunjukkan ketegasan dalam konfrontasi dengan pemerintah Cina. Penunjukkan Makiko Tanaka sebagai menteri luar negeri baru dianggap sebagai sinyal untuk meredam panasnya konfrontasi. Namun langkah itu banyak mendapat kritikan karena Jepang terkesan lambat dan menurut kepada Cina.

Yoga Darmawan

11/317966/SP/24848

 


[1] Hiroko Tabuchi, Japan Sales Tax Increase Passed, on Pledge of Early Election, The New York Times, http://www.nytimes.com/2012/08/11/world/asia/japan-parliament-passes-sales-tax-increase.html?_r=0, 13 Desember 2012: 23.00.

[2] A. Gary Shilling, Japan’s Debt Sustains a Deflationary Depression, Bloomberg View, http://www.bloomberg.com/news/2012-06-04/japan-s-debt-sustains-a-deflationary-depression.html, 13 Desember 2012: 23.00.

[4] Daniel Kaufmann, Japan’s Triple Disaster: Governance and the Earthquake, Tsunami and Nuclear Crises, Brookings, http://www.brookings.edu/research/opinions/2011/03/16-japan-disaster-kaufmann, 14 Desember 2012: 14.00.

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s