Taro Aso: Menteri Keuangan Baru dan Harapan Kembalinya Ekonomi Jepang

Dimas Valdy (11/320211/SP/24950)

Setelah kini Liberal Democratic Party (LDP) kembali mendapatkan kemenangan melawan Democratic Party of Japan (DPJ) dalam parlemen Jepang, Shinzo Abe didaulat menjadi Perdana Menteri Jepang yang baru selama 4 tahun kedepan dengan menggantikan Yoshihiko Noda.  

LDP kini tak bergerak sendiri, bersama dengan mitra koalisinya, New Komeito, LDP berhasil meraih mayoritas dua pertiga dari total 480 kursi parlemen yang diperebutkan dalam pemilu tersebut.

Dengan hasil ini, maka Perdana Menteri Yoshihiko Noda yang memimpin Jepang selama 3 tahun terakhir ini harus lengser dari posisinya. Namun jumlah pemilih yang tercatat sangat rendah dan banyak pemilih yang mengeluh karena tidak adanya pilihan yang sesuai keinginan mereka, Abe yang memimpin LDP mengaku hasil pemilu ini tidak menunjukkan dukungan penuh warga Jepang bagi LDP.

Shinzo Abe mendapatkan pamor lebih karena kemudian berani memposisikan Jepang dengan tegas dalam sengketa wilayah kepulauan yang ada, lebih spesifik pulau Senkaku, Abe mengatakan akan mengambil kebijakan yang ketat untuk mengatasi masalah perebutan wilayah dengan China. Menurutnya, Jepang adalah sebuah wilayah yang inherent dan partainya ingin menghentikan tantangan dari China.

Selain daripada perihal hubungan luar negeri tersebut, dalam tataran politik domestik, kini Shinzo Abe akan mengusulkan untuk memulihkan Dewan Ekonomi dan Kebijakan Fiskal guna mengkoordinasikan kebijakan. Dewan itu telah diberhentikan semasa kekuasaan Partai Demokratik. Abe juga mengusulkan pembentukan sebuah gugus tugas di dalam kabinet untuk memimpin pemulihan ekonomi  Jepang. Tugas utama kelompok itu adalah membicarakan rincian kebijakan. Taro Aso, mantan perdana menteri Jepang, merupakan nama yang kemudian digadang-gadang untuk menempati posisi sebagai Menteri Keuangan dan wakil Perdana Menteri.

Perihal ekonomi kini menjadi tugas tersendiri dan utama bagi pemerintah Jepang, dalam pekan ini Jepang mengalami defisit perdagangan pada bulan November senilai 953 miliar yen, atau sekitar 11,3 miliar dolar. Defisit ini adalah untuk bulan yang kelima berturut-turut akibat ekspor ke Eropa dan Cina yang turun tajam. Para pejabat Kementerian Keuangan Jepang menyatakan tingkat defisit tersebut adalah yang tertinggi untuk bulan November, dan tertinggi ketiga sejak data serupa mulai dicatat tahun 1979. Ekspor total senilai 59 miliar dolar, turun 4,1 persen sejak setahun sebelumnya dalam yen. Ekspor ke negara-negara Uni Eropa anjlok hampir 20 persen akibat pengaruh krisis utang regional. Sementara ekspor ke Cina turun 14,5 persen yang disebabkan kelesuan ekonomi dan menegangnya hubungan antara Jepang dan Cina.

Oleh karena itu, demi memulihkan kondisi ekonomi di Jepang, perdana menteri Jepang yang baru, Shinzo Abe, membuat reformasi kebijakan dalam struktur pemerintahan yang ada. Dengan mengembangkan ekonomi Jepang kembali kepada kestabilan diharapkan kemudian kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah Jepang, terutama LDP, akan kembali lagi. Dan upaya-upaya seperti inilah yang sebenarnya ditunggu oleh masyarakat Jepang, dan perbaikan-perbaikan seperti ini yang kemudian masih menjadi pekerjaan rumah bagi pemerintah Jepang.

 

Referensi:

http://www3.nhk.or.jp/nhkworld/indonesian/top/news03.html

http://www3.nhk.or.jp/nhkworld/indonesian/top/news02.html

http://kabarcepat.com/2012/12/17/shinzo-abe-bersiap-jadi-perdana-menteri-jepang-lagi

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s